![]()
Pada awal masa kemedekaan ada beberapa orang tua yang ekonominya cukup kuat dan pendidikan agama pun tinggi berupaya untuk mendirikan tempat pendidikan agama berupa madrasah. Pada sekitar tahun 1949-an kelompok H. Goni dari Cirebon – Jawa Barat bersama saudaranya mendirikan sebuah langgar yang letaknya di samping rumah H. Abdul Ghani bin Jeri (sekarang rumah H. Hasanudin A. Ghani).
Bangunan yang terbuat dari papan dan pagar bedeg ukuran 6 m x 6 m lokal kecil hal ini dilakukan sebagai rasa peduli pada kehidupan beragama masyarakat di kampung Sudimara Timur dan inilah awal mula berdirinya Yayasan Fatahillah yang mana nama tersebut diambil dari nama masjid yaitu Masjid Jami Fatahillah.
Beberapa tahun kemudian H. Abdul Ghani sekitar Tahun 1980-an bersama dengan anak dan rekan seperjuangan mendirikan sekolah yang letaknya di samping Masjid Jami Fatahillah (sekarang gedung MI Plus Fatahillah).
Tokoh-tokoh Pendiri Sekolah Fatahillah
Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pendirian Sekolah Fatahillah diantaranya, Dasuki Abdul Ghani (Alm.), Mursanudin Abdul Ghani (Alm.), Nurhasan, Mursiah Abdul Ghani (Almh.), dan Mulyati Abdul Ghani, dan dibantu dengan para pedagang dan tokoh masyarakat H. Satim (Alm.), dan H. Murdani Asmawi (Alm.), H. Madalih Adam (Alm.), H. Jaya Wiyana, serta tokoh-tokoh lain yang tidak dapat disebut namanya.
Pada tahun 1983 berdirilah sebuah Madrasah dengan ukuran lokal 6 m x 5 m, terdiri dari tiga lokal dan satu ruang guru/ kantor dindingnya terbuat dari papan dan atapnya masih terbuat dari bedek/ pagar bambu dan langit-langitnya terbuat dari bedek sedang lantainya tanah dan murid-muridnya banyak berdatangan dari kampung Larangan dan Tanah Seratus, Peninggilan.
Madrasah Ibtidaiyah (MI Fatahillah) yang dipimpin oleh Aslamaningsih Abdul Ghani (Almh.), di bantu guru Thohirudin Abdul Ghani dan Jamroni Abdul Ghani (yang masih nyantren di Darunajah dan H. Timan, H. Agus (Alm.), serta yang lainnya. Beberapa tahun kemudian madrasah yang hanya tiga lokal ditambah menjadi enam lokal kira-kira tahun 1986 yang semula papan di ganti dengan batu-bata dan belum ada atap hanya genteng saja dan lantai masih tanah.
Ibu-Ibu berbondong-bondang ikut membantu membantu mencuci genteng, anak-anak turut menumbuk batu-bata merah untuk mencampur aduakkan pasir dan kapur serta semen dan ini semata-mata hanya mencari keridhaan dari Allah dan kebanggan akan dirinya dan rasa memiliki yang tinggi. Semua berjuang dan merasa memiliki (tidak ada merasa milik pribadi dan ingin menguasai semua adalah milik Allah dan hanya mencari keridhaan Allah). Kepercayaan masyarakat yang begitu tinggi menambah semangat para pengurus untuk saling bahu membahu untuk kemajuan bersama bukan keluarga dan bukan keturunan, tetapi walaupun demikian mereka tetap menyebutnya Sekolah Kong H. Juroh (nama anak pertama H. Abdul Ghani). Walaupun mereka tidak memiliki tali/darah keturunan tetap memanggil Kong Juroh.
![]()


